WeLcoMe to my Web site !

External links - Jquery n4ma Q Rini anggreani Lahir, Lampung,24 Desember 1986

• aQ ituh,, baE,,[beNer deH] cErewEt..[WAjaR X WaNITA] peNYayang,,[huhu] muRAH hti..[bKn murAHan lho,CATET] pInk LoverZ,,[yoNkruu,,gw bgt] SETIA,,,[paHam] Ingin diMengerti..[waNita...biaSaLAh] Ingin diSAYangi,diCINTAI,,yG pasTi ma pACarQu.tp SaYaNg sEkArNg Gw LaGi jOmbLO nIch. SUkA pcAran[hahaha],,PokOknYa asyik,asyik Dweh...idola gw Yg CupuCupuLucu.. Aq Pengen SeLamanya punya CoWok yG Gak SuKa nGaMBek pOkonA so SWeet..maNiZ banGeuTzz,, sUka kTawa,,hahahihi sUka MaNjAiN Gw DeCh eh ga koQ,,[pISS] aQ sukA ORg Yg tAMPiL APa ADnYA,gK dibUAT2,, KaREna mnJADI dIRI seNdIRI tu LBH BAIK drpaDa mnJADi org lain,,rite??? so,,, BE UR SELF aZ gituH! .:) visit my another explained post CURHAT ONLINE

WELCOME TO RJM BOUTIQUE ?

External links - Jquery Rjm BouTiQue adalah Toko Online tidak mempunyai toko yg bisa dikunjungi. Produk2 bisa dilihat hanya di web saja. Rjm BouTiQue At Multiply barang-barang disini limited, Rjm BouTiQue akan mendahulukan siapapun yang paling cepat memesan dan transfer uang pembelian + ongkir. Siapa cepat, dia dapat ya.. :)!.

Next.....? GO HERE.... :)

WeLcome To R.JStory !

External links - Jquery Selamat Datang rekan... kami mengajak Anda bergabung menjadi Member R.JStory, Fashion dengan konsep“total look“ Fashion import Anda bisa langsung ikut bergabung memulai bisnis ini bersama kami.) GO Shopping Egain...:)

WELCOME TO RINI BOUTIQUE!

Thumbnail image that says sleek button using photoshop that links to a Photoshop tutoril. Butik Baju, Butik Online, Grosir Baju, Termurah, Terlengkap, Terpercaya Di Indonesia. Jual Baju Wanita, Baju Impor, Dengan Harga Murah, Terjangkau Dan Berkualitas Tinggi. Melayani Pembelian Sistem Grosir, Retail / Eceran. Pengiriman Bisa Ke Seluruh Wilayah Di Indonesia..

*KAMI INGIN MEMBANGUN JARINGAN BISNIS YANG BESAR, JADI DI SINI TIDAK ADA UNSUR PENIPUAN SEKALIPUN KARENA NAMA BAIK YANG KAMI BANGUN LEBIH PENTING *UNTUK BARANG YANG STOKNYA HABIS UANGNYA AKAN DI TRANSFER KEMBALI .

Fashion dengan konsep “ total look “ Fashion import Fashion yang trendy Buatan jepang, korea, hongkong ! you can go Shopping here :)


rini 4nggreani

Showing posts with label DUNIA SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label DUNIA SEJARAH. Show all posts

INILAH 4 Kisah Sedih di Balik Legenda TI !

Selalu ada manusia di balik berbagai teknologi di dunia Teknologi Informasi (TI). Manusia di balik teknologi ini kerap dielu-elukan bagai pahlawan, karena apa yang mereka lakukan bisa jadi telah mengubah arah perkembangan dunia secara luas.


Sebagaimana kisah para pahlawan, tak semuanya berakhir dengan 'happy ever after'. Berikut adalah kisah empat tokoh TI yang cukup legendaris namun memiliki sisi sedih seperti dikumpulkan detikINET dari berbagai sumber, Senin (30/11/2009):


Dani Bunten

http://boltac.files.wordpress.com/2008/07/danibuntonberry1.jpg
Dani Bunten (Danielle Bunten Berry / Daniel Paul Bunten) adalah desainer game yang berjaya pada tahun 1980-an. Namanya sering dikaitkan dengan legenda game Sid Meier karena konon Dani punya kesempatan menggarap game Civilization yang melambungkan nama Meier.

Prestasi: Dani Bunten meraih sukses lewat game bertajuk M.U.L.E pada kisaran 1980-an. Game ini merupakan salah satu game multiplayer awal yang sukses dan banyak dijadikan rujukan game-game berikutnya. Game Bunten lainnya yang cukup ternama adalah The Seven Cities of Gold.

Tragedi: Setelah tiga kali gagal dalam pernikahannya sebagai pria, Bunten akhirnya memilih untuk hidup sebagai seorang wanita. Bahkan ia melakukan operasi kelamin, yang di kemudian hari ia sesali. Bunten meninggal pada 1998 setelah didiagnosa mengidap kanker paru-paru, ia belum sempat menyelesaikan game M.U.L.E versi internet.


Alan Turing

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirbvsaxllWOdN1uK1X7fg77w8xvWQWIwU4mss6tALLw9SAVuK-CckFu-NwdAchyphenhyphenuDX4nAHqysmM0zrCO1aJUHkZH_CH60mB10F4nQpw3UMPNIhK1rOx8FWWInSJndNG-zIVxiecg9qEIKd/s400/225px-Alan_Turing.jpg
Turing, bernama lengkap Alan Mathison Turing, adalah ahli kripto analisis dan ilmuwan di bidang komputer asal Inggris yang memiliki peran besar dalam pengembangan komputer dunia. Masa jaya Turing adalah saat Perang Dunia II, ketika itu ia bahkan sempat mengepalai unit yang bertugas khusus menganalisa dan memecahkan kode sandi Jerman.

Prestasi: Nama Turing menjadi legenda lewat konsep bernama Turing Machine. Konsep algoritma dan komputansi ini bahkan, menurut majalah Time, merupakan landasan dari seluruh komputer yang ada di dunia. Turing pun menjadi abadi lewat Turing Test, sebuah uji untuk membuktikan apakah sebuah sistem komputer mampu 'berpikir' dengan membandingkan jawaban komputer dengan jawaban manusia pada serangkaian pertanyaan.

Tragedi: Turing memiliki orientasi seksual menyukai sesama jenis. Pada masa hidupnya, homoseksualitas merupakan hal terlarang di Inggris. Akibatnya, untuk menghindari penjara, Turing menjalani terapi dengan hormon dan bahan kimia. Pada 1954 Turing ditemukan meninggal keracunan sianida, konon ia melakukan bunuh diri.

Charles Babbage

http://content.answers.com/main/content/img/scitech/HScharba.jpg
Charles Babbage adalah bangsawan Inggris yang hidup di abad 19. Ia merupakan ahli di bidang matematika, insinyur mekanik dan filosofi. Babbage juga dikenal sebagai seorang penemu.

Prestasi: Babbage boleh dibilang sebagai orang pertama yang menelurkan konsep komputer yang bisa diprogram. Bukan hanya konsep, Babbage pun mencoba membuat mesin-mesin yang bisa membuktikan konsep yang diutarakannya. Menakjubkannya, mesin yang dibuat dengan batasan kemampuan teknis pada abad 19 itu seharusnya bisa menjadi cikal-bakal komputer.

Tragedi: Sayangnya, Babbage tak pernah bisa menyelesaikan mesinnya tersebut. Konon, ambisi Babbage soal mesin tersebut melampaui kemampuannya sendiri. Belum lagi pribadi Babbage yang dikisahkan cenderung naik-turun membuatnya selalu beralih dari satu proyek ke proyek lainnya.



Joybubbles

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnJEUEEo-PaeJ8X7iMgGyInW6f5KKL0F-sUU_q0pdDm0z-eeglOdXPO7f3QKqQn8unkMYQM-t5NEO6xd-mkIFxC-kRcZtStrQmAhdR12OlFnzTSJGxS97RPtIvOeAcjKSdcJDeM_5Ql0s/s400/joybubbles.jpg

Joybubbles, lahir dengan nama Joe Engressia, adalah seorang pelopor dalam dunia hacking. Ia terlahir sebagai seorang tuna netra dan memiliki kemampuan mendengarkan dan menyuarakan nada dengan sempurna.

Prestasi: Joybubbles merupakan pelopor phreaking, alias membobol jaringan telepon untuk membuat panggilan telepon tanpa membayar. Ketika itu ia mampu melakukannya dengan menyiulkan sebuah nada khusus di gagang telepon. Kemampuan Joe kemudian diikuti oleh Captain Crunch (Jon Draper) dengan menggunakan peluit hadiah sebuah produk sereal.

Tragedi: Legenda Joybubbles dibarengi kisahnya yang muram dengan masa kanak-kanak yang tidak bahagia dan diwanai penyiksaan. Joe mengatasi trauma ini dengan membuat Church of Eternal Childhood, mengubah namanya secara legal menjadi Joybubbles dan mendeklarasikan usianya sebagai 5 tahun untuk selamanya. Masa-masa terakhir hidupnya dihabiskan di apartemen kecil tanpa lampu yang dipenuhi perangkat telepon, boneka binatang, rekaman lawas dan mainan plastik.

sumber: http://www.simtronik.com/4-kisah-sedih-di-balik-legenda-ti-pulsa

Bung Karno Diajak Bercinta Lelaki Homo



sumber : http://www.matabumi.com/berita/bung-karno-diajak-bercinta-lelaki-homo



http://rosodaras.files.wordpress.com/2009/07/sukarno-muda.jpg




Kehidupan dalam kurungan, bisa menghancurkan, bahkan merobek-robek orientasi seksual seseorang. Tidak jarang kita mendengar berita dan cerita dari balik tembok penjara, ihwal maraknya praktek homoseksual, praktek percintaan sesama kelamin, pria dengan lelaki. Lelaki dengan pria.

Bung Karno merekam dengan baik kehidupan di balik tembok penjara Sukamiskin di Bandung. Termasuk praktek homoseksual yang terjadi di dalamnya. Bung Karno mengenal betul seorang narapidana berkebangsaan Belanda. Dalam otobiografinya, Bung Karno tidak menyebut nama, ia hanya menggambarkan, pria itu berambut keriting, berdada bidang.

Ia, diketahui masuk-keluar penjara karena sebab yang sama: Mencabuli pemuda-pemuda bumiputera, alias pribumi. Terakhir, ia kembali masuk sel dengan vonis empat tahun penjara. Padahal, belum lama ia menghirup udara bebas. Tapi itulah, orientasi homoseksual memang menyebabkan ia terus berpetualang mencari mangsa.

Sebelum dikirim kembali ke penjara, ia ditangkap polisi Belanda karena mencabuli sejumlah lelaki pribumi sekaligus. Entah apa yang ada di benaknya, tapi ia sungguh ceroboh. Bayangkan, sebagai lelaki bule, ia menonton bioskop di antara deretan kursi bumiputera. Di sekelilingnya adalah pemuda-pemuda bumiputera para calon mangsanya.

Ketika ia dikirim kembali ke bui, tak ada sedikit pun raut penyesalan. Seperti halnya para narapidana lain, maka ia pun mendapat tugas kerja di siang hari. Di antara sekian jenis pekerjaan, ia selalu menghendaki pekerjaan yang bisa berhimpit-himpitan dengan sesama napi pria. Sebaliknya, ia bisa menangis menjerit-jerit dan memohon-mohon untuk tidak ditempatkan di ruang kerja bagian obat. Sebab, di sana tidak ada siapa pun... sepi orang.

Alkisah, lelaki homo berambut keriting itu ditempatkan dalam sel di bawah Sukarno. Di sini, ia seperti mendapat "incaran" baru, pria tampan, muda pula. Tidak terlalu lama berbasa-basi, sebelum akhirnya pria bule itu mengajak bercinta Sukarno.

Dalam kesempatan yang sepi, Bung Karno melampiaskan keingintahuannya, "Kenapa?" tanya Bung Karno, "Kenapa engkau mau bercinta denganku?"

Dan dia menjawab, "Karena di sini tidak ada perempuan."

Bung Karno pun mengangguk. Sampai pada jawaban itu, Bung Karno masih menemukan titik kewajaran pada diri seorang pria. Kemudian, Bung Karno pun berujar, "Memang benar. Aku sendiri juga menginginkan kawan perempuan (di sel ini), tapi bagaimana bisa?!"

Lelaki homo itu menimpali, "Yah... apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?"

Bung Karno pun meradang, "Oooh... Kau sakit!" (roso daras)






“Pating Greges,” kata Bung Karno di Pagi 17 Agustus 1945

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2422756





Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945, langit di atas kota Jakarta biru cerah. Suasana di kediaman Bung Karno, Jl Pegangsaan Tmur 56, Menteng, Jakarta Pusat sudah ramai. Di halaman depan, di ruang pendapa, hingga di halaman belakang, dipadati para patriot dengan raut antusias, menyongsong detik-detik yang menentukan nasib bangsa ke depan.



Sementara itu, Bung Karno sendiri masih lelap. Maklum, ia baru masuk kamar menjelang shubuh, setelah semalam padat aktivitas menjelang proklamasi kemerdekaan. Di antaranya, rapat intensif di kediaman Laksamana Maeda, tokoh militer Jepang yang disebut-sebut menjanjikan bantuan bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jam dinding menunjuk angka 8 ketika dr R. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno, menyelinap masuk ke kamar Bung Karno. Ia memandang Putra Sang Fajar masih pulas. Didekatinya tempat tidur Bung Karno, dan diusapnya tangan Bung Karno… mata pun terbuka. Sorot kelelahan memancar dari kedua bola mata Bung Karno. Kalimat pertama di pagi hari tanggal 17 Agustus 1945 yang keluar dari mulut Bung Karno kepada dr. R. Soeharto adalah, “Pating greges”.



Ungkapan dalam bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai “kondisi badan yang pegal-linu karena gelaja demam.” Apalagi, ketika dr Soeharto meraba badan Bung Karno, panas. Sebagai dokter pribadinya, dia langsung melakukan pemeriksaan, dan atas persetujuan Bung Karno, dr Soeharto memberinya suntikan chinine-urethan intramusculair, dan meminta Bung Karno meminum broom chinine.

Setelah disuntik dan minum obat, tak lama kemudian Bung Karno tertidur lagi. Dr Soeharto keluar kamar, dan berpapasan dengan Fatmawati. Kepada Bu Fat, dijelaskan ihwal sakitnya Bung Karno. Bu Fat sempat berujar, “Saya sendiri sebetulnya juga capek sekali setelah kembali dari Rengasdengklok dan menyelesaikan pembuatan bendera yang akan dikibarkan hari ini.”



Detik demi detik bergulir…. waktu menunjuk pukul 09.30 ketika dr Soeharto melihat Bung Karno terbangun dengan kondisi badan yang lebih sehat. Panasnya sudah reda. Ia segera beranjak dari tempat tidur demi mendengar kata-kata Soeharto, “sudah jam setengah sepuluh mas…”. Setelah itu, Bung Karno berkata, “Minta Hatta segera datang.”

Selagi dr Soeharto meneruskan perintah Bung Karno kepada Latief Hendraningrat, Bung Karno mempersiapkan diri demi momentum paling bersejarah bagi bangsa kita. Ia berpakaian rapi, mengenakan busana serba putih: celana lena putih dan kemeja putih dengan potongan yang populer disebut “kemeja pimpinan”. Lengannya panjang, bersaku empat, dengan band pinggang di belakang. Ia begitu gagah, penuh percaya diri.

Sebelum membacakan teks proklamasi, Bung Karno memberi kata pengantar dengan intonasi yang begitu gamblang, dan suara yang tenang:





Saudara-saudara sekalian

Saya telah minta Saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan Tanah Air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.


Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti. Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendir.


Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib Tanah Air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Permusyawaratanitu seia sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami nyatakan kebupatan tekad itu. Dengarlah proklamasi kami:

Dan… Bung Karno pun membacakan teks proklamasi dengah khidmat.
Begitulah sekelumit kisah, beberapa saat sebelum detik-detik bersejarah, berlangsungnya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (roso daras)






Cinta Carlos kepada Bung Karno

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2422756




Tahukah Anda, Bung Karno memiliki sopir khusus seorang warga Roma, Italia bernama Carlos. Bung Karno begitu menyayangi dia, begitu pula sebaliknya. Ihwal kedekatan Bung Karno dengan para sopir atau bawahan lain pada umumnya, tak lain karena Bung Karno begitu perhatian kepada hal-hal kecil. Seperti misalnya setiap kunjungan ke daerah-daerah, dari satu tempat ke tempat lain, Bung Karno akan selalu dan berkali-kali menanyakan “status kesejahteraan” sopir. Harus cukup istirahatnya. Harus cukup makannya. Harus tenang hatinya. “Keselamatan kita di tangannya,” ujar Bung Karno suatu hari kepada ajudan Bambang Widjanarko.








Perhatian khusus itu pula yang merebut hati bawahan, sehingga mereka benar-benar mencintai Bung Karno. Tak terkecuali seorang sopir berkebangsaan Italia. Carlos, si sopir itu, adalah langganan Kedutaan RI setempat setiap kali Bung Karno berkunjung ke sana. Dan ketika pada suatu hari Bung Karno berkunjung ke Roma, dan si sopir bukanlah Carlos, serta-merta Bung Karno bertanya kepada Dubes, “Mengapa sopirnya lain? Ke mana Carlos?”


Ketika dicek ke perusahaan tempat Carlos bekerja, diketahui Carlos sedang berlibur ke Swiss atas tanggungan perusahaan. Maka, Bung Karno pun segera bertitah, “Panggil dia pulang, saya mau Carlos!” Perintah pun segara dilaksanakan, dan kesokan paginya, Carlos sudah muncul di hotel, menghadap Bung Karno, memberi hormat ala militer dan berkata, “Your excellency, I am at your service.” Bung Karno menyambut gembira, “Well Carlos, where have you been? I missed you. Bagaimana kabar istri dan anak-anakmu?”


Disapa begitu, Carlos pun bercerita: “Mungkin Paduka Yang Mulia sudah mendengar ceritanya. Saya dipaksa cuti ke Swiss beserta keluarga. Memang senang bepergian ke luar negeri, apalagi dibiayai perusahaan. Tapi kemarin sore waktu kami mendapat berita dari perusahaan agar kami segera pulang karena saya harus melayani Paduka Yang Mulia, kami menjadi lebih gembira lagi. Bahkan istri saya mendesak agar kami cepat-cepat kembali ke Roma. Dan, inilah saya… siap melayani Paduka Yang Mulia.”


Bung Karno bukanlah pribadi yang egois. Demi menjaga peraaan para sopir, teman-teman sekantor Carlos, maka Bung Karno mengundang mereka makan bersama. Carlos datang bersama 10 temannya. Dari event itu diketahui, bahwa kepergian Carlos berlibur ke luar negeri, mulanya karena usulan teman-temannya yang “iri”, dan ingin juga melayani Bung Karno. Maka, ketika terbetik berita Bung Karno hendak berkunjung ke Roma, diaturlah agar Carlos pergi, sehingga sopir lain berkesempatan melayani Bung Karno.


Nah, kembali ke jamuan makan malam terakhir, sebelum Bung Karno dan rombongan kembali ke Tanah Air. Usai makan spaghetti dan minum anggur dalam suasana pesta kecil, keesokan harinya, para sopir sudah berada di hotel, bersiap dengan mobil masing-masing hendak mengantar rombongan Bung Karno ke bandara. Pagi yang cerah, ketika Bung Karno keluar dari hotel hendak menuju mobil, dilihatnya para sopir berjejer di samping pintu sambil memegangi topi. Lalu, terdengar aba-aba: One – two – three ! dan terdengarlah suara para pengemudi itu bernyanyi:


“Bung Karno siapa yang punya”
“Bung Karno siapa yang punya”
“Bung Karno siapa yang punya”
“Yang punya kita semua….”








Bung Karno tersenyum menahan haru. Para pengemudi berkebangsaan Itali menyanyikan lagi yang amat populer ketika itu, dalam bahasa Indonesia yang baik. Belakangan diketahui, para sopir itu sudah belajar dari salah seorang staf kedutaan Indonesia, dan mereka sangat menyenangi lagu tersebut.

Bung Karno mengucap terima kasih, lantas menyalami semua pengemudi satu per satu.


Bung Karno, telah merebut hati semua pengemudi di Roma…. (roso daras)






Cinta Bung Karno di Bumi Ende

sumber :www.kaskus.us







Ini adalah sepenggal kisah di tahun 1934, ketika Bung Karno dibuang penjajah Belanda ke bumi Ende. Akan tetapi, bukan kisah cinta dalam arti asmara antara Bung Karno dengan seorang gadis. Ini adalah sepenggal rasa cinta yang disemai Bung Karno kepada rakyat Ende, sehingga “Orang Jawa” –begitu Bung Karno disebut masyarakat lokal– bisa segera mendapat balasan cinta rakyat setempat.


Ada begitu banyak nama yang melekat di hati Sukarno. Mereka terdiri atas para pembantu, para pemain sandiwara (tonil) Kelimutu yang didirikan Bung Karno… bahkan rakyat di luar pulau Ende, seperti Pulau Sabu, tempat seorang lelaki bernama Riwu Ga dilahirkan. Bung Karno memanggil Riwu Ga dengan panggilan pendek, “Wo”.


Dalam buku karya Peter A. Rohi, “Kako Lami Angalai?” Riwu Ga mengisahkan awal mula perkenalannya dengan Bung Karno. Dikisahkan, Riwu adalah penjaja kue keliling, hingga di suatu senja tatkala ia melintas di kediaman “keluarga Jawa”, terdengar suara perempuan memanggil, “Kue… kue…” Riwu berhenti, menoleh, tampaklah gadis kecil berkulit kuning bersih, yang belakangan Riwu kenal bernama Ratna Juami, anak angkat pasangan Bung Karno – Inggit Garnasih, yang biasa dipanggil “Omi”.


Sejurus kemudian, keluar perempuan cantik… dialah Inggit. Keduanya membeli dua potong pisang goreng yang dijajakan Riwu. Belum habis pisang dimakan, Inggit menatap tajam ke arah Ribu dan berkata, “Maukah anak bekerja dengan kami? Maukah anak tinggal dengan kami?”


Riwu muda (usianya baru 16 tahun), sangat kaget demi mendapat tawaran itu. Belum hilang rasa kaget yang tampak dari ekspresi muka terkejut Riwu, Ibu Inggit bertanya lagi, “Anak mau tinggal bersama kami? Kalau mau, anak akan dapat satu rupiah sebulan.”


Itu gaji yang besar, pikir Riwu. Bayangkan, harga satu kilogram beras waktu itu hanya dua sen. Sedangkan gajinya, ekuivalen 100 sen. Tanpa sadar, benar-benar di luar kesadarannya, Riwu mengangguk. Tapi ketika ia sadar, ia mengangguk lebih dalam. Meski begitu, bukan angka 1 rupiah yang mendorongnya menyetujui tawaran Inggit, tapi lebih didorong rasa bangga bisa bekerja pada keluarga “orang Jawa” yang sangat berwibawa itu.


Riwu segera berlari pulang, membawa sisa jajanan kue yang belum habis terjual. Ia minta izin Gadi Walu, kakak sepupu yang membawanya dari Pulau Sabu ke Ende. Ternyata, ia mendapat restu. Bukan hanya restu Gadi Walu, tetapi restu keluarga besar. Mereka bangga Riwu dipercaya menjadi pembantu di keluarga Bung Karno yang dikenal sebagai tokoh yang anti-Belanda. Sikap anti yang sama, yang mengalir pada darah sebagian besar masyarakat Ende sebenarnya.


Hari-hari berikut, Riwu menjadi pesuruh yang sangat taat kepada Bung Karno, Ibu Inggit, dan keluarganya. Pengabdian Riwu begitu total, sehingga Bung Karno pun mempercayainya secara total. Kepercayaan itu ditunjukkan Bung Karno ketika peran Riwu tidak saja menjadi pembantu, tetapi sekaligus pengawal Bung Karno.


Benar. Tidak lama berselang, “Tidak sekali pun Bung Karno melangkah lebih dari dua meter tanpa pengawalan dari saya.” Begitu Riwu mengilustrasikan betapa ia mempertaruhkan hidupnya untuk berada di dekat Bung Karno, ke mana pun Bung Karno berurusan. Kisah itu berlanjut sampai ke pembuangan berikutnya di Bengkulu, bahkan sampai ke Jakarta hingga proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.


Tentang Bengkulu, ia mencatat banyak sekali peristiwa dramatik. Tentang proklamasi, ia pun memiliki kisah lain yang sungguh heroik. Riwu, selama 14 tahun menjadi orang dekat, dekat, sangat dekat dengan Bung Karno. (roso daras)





Amerika, “Go To Hell With Your Aid” !!

sumber :www.kaskus.us









Puncak kekesalan Bung Karno kepada Amerika Serikat, diteriakkan dalam kalimat yang sangat terkenal hingga hari ini, “Amerika… go to hell with your aid“. Kalimat yang diucapkan dengan menggelegar karena meregang amarah, tentu saja mengagetkan banyak pihak. Bukan saja karena Amerika adalah negeri super power dan Indonesia adalah negeri yang baru merdeka, lebih dari itu, pada hakikatnya, sebagai negara baru, Indonesia sejatinya masih membutuhkan bantuan negara lain.


Karenanya, dalam biografi yang dituturkan melalui Cindy Adams, ia memerlukan sedikitnya empat paragraf untuk menjelaskan sikap kerasnya kepada Amerika Serikat. Pertama-tama ia jelaskan arti kata “bantuan”. Ia ingatkan sekali lagi, yang dimaksud bantuan adalah bukan cuma-cuma, bukan hadiah dari seorang paman yang kaya raya kepada keponakanya yang melarat. “Bantuan” itu adalah suatu pinjaman dan harus dibayar kembali.


Sementara Amerika mengira seolah-olah Indonesia adalah ibarat orang melarat, kemudian mereka berkata, “Ambillah… ambillah saudara kami yang malang dan melarat… ambillah uang ini.” Sungguh suatu anggapan yang tidak betul. “Anggapan yang munafik!” pekik Bung Karno. Bantuan mereka, pada hakikatnya adalah utang yang harus dibayar kembali berikut segala bunganya.


Amerika menaruh perhatian kepada negara terbelakang seperti Indonesia ketika itu, karena dua alasan. Pertama, karena Indonesia merupakan pasar yang baik untuk barang-barang mereka. Kedua, mereka takut Indonesia menjadi komunis.


Manakala negara yang dibantu tidak “berkelakuan baik” sesuai kehendak mereka, dengan semena-mena lantas mengancam, “Kami tidak akan berikan lagi, kecuali jika engkau berkelakuan baik!” Tentang ini, sikap Presiden Filipina Manuel Quezon sama dengan Bung Karno. Quezon pernah mengatakan, “Lebih baik pergi ke neraka tanpa Amerika, daripada pergi ke surga bersama-sama dengan dia.”


Bung Karno menegaskan, Amerika Serikat tidak memberikan hadiah cuma-cuma kepada Indonesia. Sementara, Indonesia yang ingin berdiri di atas kaki sendiri, sejatinya tidak menginginkan bantuan cuma-cuma. Bahkan, Indonesia sangat berterima kasih atas semua bantuan yang telah Amerika ulurkan kepada bangsa Indonesia. “Kami sama sekali tidak meminta Amerika supaya memberi uang secara cuma-cuma. Kami sudah mengemis-ngemis selama hidup, dan kami takkan melakukannya lagi. Ada pertolongan lain yang dapat mereka berikan, yakni persahabatan.”


Dan, manakala para senator berpidato di muka umum tentang pencabutan bantuan kepada Indonesia. Pemerintah Amerika mengumumkan di koran-koran di seluruh dunia tentang pencabutan bantuan kepada Indonesia… ketika itu pula Bung Karno merasa Amerika Serikat bukanlah sahabat. Mereka tidak saja menampar muka Sukarno di muka umum, tetapi juga merendahkan Indonesia sebagai bangsa.


Karenanya, Bung Karno menyesalkan, “(Jika ingin mencabut bantuan) Mengapa tidak mencabutnya diam-diam? Mengapa harus berteriak-teriak mengumumkan kepada dunia? Janganlah perlakukan Sukarno di muka umum, seperti seorang anak yang tak berguna dengan menolak memberinya gula-gula lagi, sampai dia menjadi anak yang manis. Oleh karena sikap yang begitu itu, maka Sukarno tidak punya pilihan lain kecuali mengatakan, ‘Persetan dengan bantuanmu!’” (roso daras)






Kruschev Meledek Pesawat Bung Karno

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2422756








Tahun 60-an, saat usia kemerdekaan kita masih berbilang belasan tahun, Indonesia –dan Bung Karno– sudah menjadi bangsa dan negara yang dihargai oleh para pemimpin negara besar, utamanya penguasa Blok Kapitalis (Amerika Serikat) dan Blok Komunis (Rusia atau Uni Sovyet). Kedua negara adidaya yang terlibat perang dingin karena beda ideologi tadi, saling berebut pengaruh terhadap Indonesia.


Sikap Bung Karno? Sangat jelas, dia menyuarakan kepada dunia sebagai negara nonblok. Sekalipun begitu. bukan berarti Indonesia adalah negara yang istilah Bung Karno hanya “duduk thenguk-thenguk” tanpa berbuat apa-apa bagi peradaban dunia. Nonblok yang aktif. Karena itu pula, Bung Karno berhasil menggalang kekuatan-kekuatan baru yang ia wadahi dalam NEFO (New Emerging Forces), sebuah kekuatan baru, terdiri atas negara-negara yang baru merdeka, atau sedang berkembang.


Nah, ini cerita tentang pesawat terbang. Dalam berbagai lawatan ke luar negeri, pemerintah Indonesia menyewa pesawat komersil Pan America (PanAm), lengkap beserta kru untuk rombongan Presiden Sukarno. Ini sempat jadi masalah diplomatik, ketika Bung Karno hendak berkunjung ke Rusia, memenuhi undangan Kamerad Nikita Kruschev. Sebab waktu itu, tidak ada satu pun perusahaan penerbangan Amerika Serikat yang mempunyai hubungan tetap dengan Moskow.


Rusia terang-terangan keberatan bila Bung Karno datang menggunakan PanAm dan mendarat di Moskow. Karena itu, pihak pemerintah Rusia mengajukan usul, akan menjemput Bung Karno di Jakarta menggunakan pesawat Rusia yang lebih besar, lebih perkasa, Ilyushin L.111.


Sudah watak Bung Karno untuk tidak mau didikte oleh pemimpin negara mana pun. Termasuk dalam urusan pesawat jenis apa yang hendak ia gunakan. Karenanya, atas usulan Rusia tadi, Bung Karno menolak. Bahkan jika kedatangannya menggunakan PanAm ditolak, ia dengan senang hati akan membatalkan kunjungan ke Rusia.


Pemerintah Rusia pun mengalah. Ya… mengalah kepada Sukarno, presiden dari sebuah negara yang belum lama berstatus sebagai negara merdeka, lepas dari pendudukan Belanda dan Jepang.


Akan tetapi, tampaknya Rusia tidak mau kehilangan muka sama sekali, dengan mendaratnya sebuah pesawat Amerika –musuhnya– di tanah Moskow. Alhasil, ketika pesawat PanAm jenis DC-8 mendarat di bandar udara Moskow, petugas traffic bandara langsung mengarahkan pesawat yang ditumpangi Sukarno dan rombongan parkir tepat di antara dua pesawat terbang “raksasa” buatan Rusia, jenis Ilyushin seri L.111. Seketika, tampak benar betapa kecilnya pesawat Amerika itu bila dibanding dengan pesawat jet raksasa buatan Rusia.


Belum cukup dengan aksi “unjuk gigi” tadi, Kruschev yang menjemput Bung Karno di lapangan terbang, masih pula menambahkan, “Hai, Bung Karno! Itukah pesawat kapitalis yang engkau senangi? Lihatlah, tidakkah pesawat-pesawatku lebih perkasa?”


Mendengar ucapan itu, Bung Karno hanya tersenyum lebar dan menjawab, “Kamerad Kruschev, memang benar pesawatmu kelihatan jauh lebih besar dan gagah, tetapi saya merasa lebih comfortable dalam pesawat PanAm yang lebih kecil itu.” (roso daras)





Misteri Tongkat Komando Bung Karno

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2422756&page=2





Dalam banyak dokumentasi foto Bung Karno, tidak sedikit yang menampakkan sosok Putra Sang Fajar itu memegang atau mengempit tongkat komando. Dalam hierarki kemiliteran, posisinya sebagai Panglima Tertinggi, tentu saja merupakan hal yang wajar jika ia sering terlihat memegang tokat komando. Sama seperti yang sering kita lihat, ketika Panglima TNI, Panglima Kodam, Kapolri, memegang tongkat komando.


Akan tetapi, tidak begitu dari kacamata spiritual. Kalangan yang percaya hal-hal ghaib. Kalangan yang percaya adanya kekuatan tertentu pada benda-benda keramat. Kalangan yang percaya adanya hal-hal metafisik yang tidak bisa dibahas dengan kalimat lugas, dan tidak bisa dinalar dengan pola pikir normal. Nah, kelompok ini, begitu eksis di Indonesia, sejak dulu sampai sekarang.


Di antara kalangan mereka, percaya betul bahwa tongkat komando Bung Karno bukanlah sembarang tongkat. Tongkat komando Bung Karno adalah tongkat sakti, yang berisi keris pusaka ampuh. Bahkan, kayu yang dibuat sebagai tongkat pun bukan sembarang kayu, melainkan kayu pucang kalak. Pucang adalah jenis kayu, sedangkan Kalak adalah nama tempat di selatan Ponorogo, atau utara Pacitan. Di pegunungan Kalak terdapat tempat persemayaman keramat. Nah, di atas persemayaman itulah tumbuh pohon pucang.


Ada begitu banyak jenis kayu pucang, tetapi dipercaya pucang kalak memiliki ciri khas. Salah satu cara untuk mengetes keaslian kayu pucang kalak, pegang tongkat tadi di atas permukaan air. Jika bayangan di dalam air menyerupai seekor ular yang sedang berenang, maka berarti kayu pucang kalak itu asli. Tetapi jika yang tampak dalam bayangan air adalah bentuk kayu, itu artinya bukan pucang kalak. Pucang biasa, yang banyak tumbuh di seantero negeri.


Begitulah sudut pandang mistis masyarakat spiritual terhadap tongkat komando Bung Karno. Alhasil, tidak sedikit yang menghubungkan dengan besarnya pengaruh Sukarno. Tidak sedikit yang menghubungkan dengan kemampuannya menyirap kawan maupun lawan. Tidak sedikit yang menghubungkan dengan “kesaktian” Sukarno, sehingga lolos dari beberapa kali usaha pembunuhan.


Apa kata Bung Karno? “Ah… itu semua karena lindungan Allah, karena Ia setuju dengan apa-apa yang aku kerjakan selama ini. Namun kalau pada waktu-waktu yang akan datang Tuhan tidak setuju dengan apa-apa yang aku kerjakan, niscaya dalam peristiwa (pembunuhan) itu, aku bisa mampus.” (roso daras)





Bung Karno, Dikutuk seperti Bandit, Dipuja Laksana Dewa

sumber :www.kaskus.us








Begitulah Sukarno. Sepertinya, tidak ada manusia di abad ke-20 yang menimbulkan begitu banyak perasaan pro dan kontra seperti dia. Kepada penulis biografinya, Cindy Adams, Bung Karno mengibaratkan dirinya dikutuk seperti bandit, dan dipuja laksana Dewa.


Dubes senior Inggris di tahun 60-an pernah berkirim surat ke alamat Downing Street 10 London (alamat Kantor Perdana Menteri). Tulisnya, “Presiden Sukarno tidak dapat dikendalikan, tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus yang terdesak.”


Media massa Barat membuat laporan-laporan yang mendiskreditkan Sukarno, meski sumbernya seorang abang becak, yang entah faktual entah fiktif. Hal itu tentu menjadi kontradiktif dengan sisi yang lain, yang menggambarkan begitu ia dipuja bagaikan Dewa.


Tak jarang, seorang kakek-kakek datang ke Istana, memaksa bertemu Presidennya sebelum ajal menjemput. Ada pula kisah seorang nelayan uzur, berjalan kaki 23 hari lamanya, untuk dapat bersujud mencium kaki Sukarno. Ia menyatakan, dirinya sudah berjanji, sebelum mati akan melihat wajah presidennya dan menunjukkan kecintaan serta kesetiaan kepadanya. Termasuk foto ilustrasi di atas, seorang lelaki berjalan kaki dari kampungnya, membawa seikat talas untuk dipersembahkan kepada presidennya. Ketika berjumpa, ia pun langsung bersimpuh, bersujud dan mencium kaki Sukarno.


Tidak sedikit kisah-kisah unik lain. Seperti yang dilakukan seorang petani kelapa yang sedang bersedih karena sudah berbulan-bulan anaknya sakit keras. Suatu malam ia bermimpi, bahwa ia harus pergi menemui Bung Karno untuk meminta air bagi kesembuhan anaknya. Bung Karno sendiri memenuhi permintaan rakyat yang dicintainya. Diambilkannya air ledeng biasa dan diserahkannya kepada petani kelapa tadi.


Dalam persoalan di atas, Bung Karno sama sekali tidak bisa bersoal-jawab dengan mereka. Apalagi, Sukarno paham betul, sebagian masyarakat kita, utamanya orang Jawa, banyak yang percaya kepada ilmu kebatinan. Termasuk petani kelapa yang bersikeras meminta air kepada Bung Karno. Seminggu kemudian, ia mendengar anak petani kelapa tadi telah sembuh.


Tidak jarang, ketika Bung Karno hadir dalam suatu acara, muncul pula cerita-cerita unik. Ia ingat ketika menghadiri suatu acara di pedalaman Jawa Tengah. Seorang perempuan desa mendatangi pelayan Bung Karno dan membisikkan, “Jangan biarkan orang mengambil piring Presiden. Berikanlah kepada saya sisanya. Saya sedang mengandung dan saya ingin anak laki-laki. Saya mengidamkan seorang anak seperti Bapak. Jadi tolonglah, biarlah saya memakan apa-apa yang telah dijamah sendiri oleh Presidenku,” ujar perempuan itu bersemangat.


Di Pulau Bali, masyarakat percaya bahwa Sukarno adalah penjelmaan Dewa Wishnu, Dewa Hujan dalam agama Hindu. Karenanya, di musim kemarau pun, ketika Sukarno datang ke Bali, senantiasa dimaknai sebagai turunnya hujan. Mereka yakin, kedatangannya membawa restu. Bahkan pernah terjadi, ketika Bung Karno terbang ke Bali dalam musim kering, tepat setelah Bung Karno tiba, hujan turun bagaikan dicurahkan dari langit. (roso daras)





0 comments

“Tuan Punya Bom Atom, tapi Saya Punya Seni”

sumber :www.kaskus.us







Adalah kebiasaan Presiden AS, John F. Kennedy menerima tamu-tamu negara di lantai atas Gedung Putih. Tapi protokol itu tidak berlaku bagi Sukarno, Presiden Republik Indonesia. Dan itu dinyatakan langsung kepada protokol Gedung Putih, “Kennedy mesti turun. Sambut saya di bawah. Kalau tidak, saya tidak akan datang.”


Entah bagaimana si petugas protokol itu menyampaikannya ke Kennedy. Tetapi yang jelas, ketika Bung Karno datang ke Gedung Putih, Kennedy turun ke ke lantai bawah, dan menyambutnya dengan ramah. Setelah ritual pertemuan dua kepala negara sekadarnya, barulah keduanya bersama-sama menaiki tangga ke atas, diiringi para staf kedua petinggi negara tadi.


Bukan hanya itu. Bung Karno bahkan diberi kesempatan berpidato di Gabungan Kongres dan Senat Amerika Serikat. Ini sangat jarang terjadi, Kepala Negara disambut di Amerika Serikat dengan Sidang Gabungan Kongres dan Senat.






O, ya… mundur sedikit ke belakang, ke saat di mana Bung Karno tiba di Gedung Putih, disambut Kennedy di bawah. Ketika itu, Kennedy sempat memperkenalkan para staf yang mendampinginya. Salah satunya adalah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Charles Wilson, nama lengkapnya Charless Nesbitt Wilson. Politisi kelahiran Texas tahun 1 Juni 1933, alias satu zodiak dengan Bung Karno.


Ketika diperkenalkan, Wilson yang berperawakan gagah dan berwajah macho, maju hendak menyalami Presiden Sukarno. Saat itulah muncul spontanitas humor diplomasi yang sungguh luar biasa dari seorang Sukarno, presiden negara berkembang yang belum lama lepas dari penjajahan Belanda.


Kepada Wilson, Bung Karno tidak sekadar mengulurkan tangan untuk bersalaman. Lebih dari itu, Bung Karno dalam bahasa Inggris yang fasih berkata, “Kombinasi baju dan dasi Tuan tidak bagus,” berkata begitu sambil Bung Karno membetulkan ikatan dasi yang kelihatan miring. Selesai merapikan dasi Menhan Amerika Serikat, Bung Karno melanjutkan ucapannya, “Tuan boleh punya bom atom, tapi kami punya seni yang tinggi.”


Bayangkan, mental siapa yang tidak koyak. Apalagi Bung Karno melakukan semua gerakan dan ucapan tadi dengan sangat penuh percaya diri, disaksikan begitu banyak orang. Dari hal-hal kecil seperti itulah, dignity, harga diri kita sebagai bangsa dibangun oleh Bung Karno, sehingga Indonesia tidak dipandang sebelah mata. (roso daras)






0 comments

Hari-hari Terakhir Bung Karno

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2422756&page=2



Hari-hari Terakhir Bung Karno (1)





Bung Karno, di akhir hayatnya sangat nista. Ia dinista oleh penguasa ketika itu. Ia sakit, dan tidak mendapat perawatan yang semestinya bagi seorang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus tokoh pemersatu bangsa. Bahkan untuk sekadar bisa menghirup udara Jakarta (dari pengasingannya di Bogor), ia harus menulis surat dengan sangat memelas kepada Soeharto.


Mengenang hari-hari terakhir Bung Karno, saya sengaja menukil kisah sedih yang dipaparkan Reni Nuryanti dalam bukunya Tragedi Sukarno, Dari Kudeta Sampai Kematiannya. Harapannya, kita semua bisa berkaca dari sejarah. Detail kisah mengharu biru, dari praktik-praktik biadab aparat militer ketika itu kepada Bung Karno selama hidup dalam “kerangkeng” Orde Baru di Wisma Yaso, cepat atau lambat akan terbabar.


Hari-hari terakhir Bung Karno ini, saya penggal mulai dari peristiwa tanggal 16 Juni 1970 ketika Bung Karno dibawa ke RSPAD (Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto). Ia dibawa pukul 20.15, harinya Selasa. Ada banyak versi mengenai peristiwa ini. Di antaranya ada yang menyebutkan, Sukarno dibawa paksa dengan tandu ke rumah sakit.






Hal itu ditegaskan oleh Dewi Sukarno yang mengkonfirmasi alasan militer, bahwa Bung Karno dibawa ke RS karena koma. Dewi mendapat keterangan yang bertolak belakang. Waktu itu, tentara datang membawa tandu dan memaksa Bung Karno masuk tandu. Tentara tidak menghiraukan penolakan Bung Karno, dan tetap memaksanya masuk tandu dengan sangat kasar. Sama kasarnya ketika tentara mendorong masuk tubuh Bung Karno yang sakit-sakitan ke dalam mobil berpengawal, usai menghadiri pernikahan Guntur. Bahkan ketika tangannya hendak melambai ke khalayak, tentara menariknya dengan kasar.


Adalah Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di saat-saat akhir. Demi mendengar bapaknya dibawa ke RSPAD, ia pun bergegas ke rumah sakit. Betapa murka hati Rachma melihat tentara berjaga-jaga sangat ketat. Hati Rachma mengumpat, dalam kondisi ayahandanya yang begitu parah, toh masih dijaga ketat seperti pelarian. “Apakah bapak begitu berbahaya, sehingga harus terus-menerus dijaga?” demikian hatinya berontak.


Dalam suasana tegang, tampak Bung Karno tergolek lemah di sebuah ruang ujung becat kelabu. Tak ada keterangan ruang ICU atau darurat sebagaimana mestinya perlakuan terhadap pasien yang koma. Tampak jarum infus menempel di tangannya, serta kedok asam untuk membantu pernapasannya.


Untuk menggambarkan kondisi Sukarno ketika itu, simak kutipan saksi mata Imam Brotoseno, “Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa –dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar kemana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas. (roso daras)

Hari-hari Terakhir Bung Karno (2)





Hari kedua, 17 Juni 1970, Sukarno tampak lebih baik dari hari sebelumnya. Tapi, ia tidak mau makan. Bahkan, obat-obatan yang diberikan dokter pun enggan meminumnya. Setiap kali dokter hendak memberi suntikan pun, Bung Karno selalu menolak. Rachmawati menerka, Bung Karno mengetahui bahwa semua pengobatan selama ini hanya untuk memperlemah dirinya. Dalam kacamata politik, pengobatan dengan misi pembunuhan.


Karenanya, kondisi Sukarno makin lemah dari hari ke hari. Hingga saat itu Rachma berani bertanya kepada tim dokter yang merawat, dalam hal ini ia bertanya kepada Ketua Tim Dokter yang merawat Bung Karno, yakni Prof Mahar Mardjono, “Mengapa sakit komplikasi yang diderita bapak dibiarkan begitu saja. Mengapa tidak dilakukan cuci darah?” Mahar hanya menjawab sambil lalu, sehingga Rachma berkesimpulan, dokter-dokter itu tidak benar-benar merawat Sang Proklamator Bangsa. Bahkan, para dokter tampak tak punya rasa iba sedikit pun.


Lebih sakit hati Rachma ketika dr Mahar mengatakan, “Alat itu sedang dipesan dari Inggris, dan belum tentu ada. Kalaupun ada, kapan datangnya, tidak tahu.” Keterangan Mahar ini, di kemudian hari dibenarkan anggota dokter lain, “Sebenarnya sudah lama, tim dokter telah mengusulkan agar alat itu dibeli. Tapi alat itu tak kunjung datang meski pembeliannya kabarnya telah dijajaki di Singapura dan Inggris.” Dan akhirnya, anggota tim dokter itu menambahkan, “jangan-jangan memang sengaja tidak dibeli….”


Dalam keterangan lain, situasi saat itu memang membuat tim dokter yang dipimpin Mahar Mardjono tak berdaya. Ada kekuatan besar yang bisa mengancam nyawa mereka seandainya mereka bekerja di luar kendali penguasa. Karenanya dalam suatu kesaksian terungkap, saat kondisi Bung Karno kritis, Prof dr Mahar Mardjono sempat menuliskan resep khusus, namun obat yang diresepkannya itu disimpan saja di laci oleh dokter yang berpangkat tinggi. Mahar mengemukakan hal itu kepada rekannya, dr Kartono Mohammad.






Kesaksian datang dari saksi lain yang juga mantan pejabat di era Sukarno. Menurutnya, adalah fakta bahwa Sukarno ditelantarkan oleh Soeharto pada waktu sakit. Saksi yang juga seorang purnawirawan tinggi militer itu juga mengungkapkan, perlakuan yang seragam terhadap Sukarno berasal dari sebuah instruksi, “Yang memberi instruksi adalah Soeharto,” katanya. (roso daras)

Hari-hari Terakhir Bung Karno (3)





Semua detik yang berdetak, semua menit yang lewat, semua jam yang bergulir, semua angin yang berembus… adalah duka sepanjang hari. Satu hari bernama tanggal 18, mungkin hanya bermakna 24 jam. Satu hari berikutnya yang bernama tanggal 19 Juni 1970, adalah bilangan 1440 menit, 86.400 detik. Tapi semua itu adalah tusukan duri bagi Sukarno yang tengah tergolek lemah.


Sedangkan tanggal 20 Juni, tercatat sebagai simbol dwitunggal yang terpatri abadi. Sejarahlah yang berkuasa pada hari itu. Bung Hatta, datang menjenguk sahabat seperjuangan. Sementara, Bung Karno, seperti diberi kekuatan untuk menyaksikan kedatangan Sang Hatta. Maka, terjadilah pertemuan yang mengharu-biru, seperti dikisahkan Meutia Hatta dalam bukunya: Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan.


Berkata lirih Sukarno kepada Hatta, “Hatta… kau di sini….?
Seperti diiris-iris hati Hatta melihat sahabatnya tergolek tanpa daya. Demi memompa semangat kepada sahabat, wajah teduh Bung Hatta menampakkan raut yang direkayasa, “Ya… bagaimana keadaanmu, No?” begitu Hatta membalas sapaan lemah Karno, dengan panggilan akrab yang ia ucapkan di awal-awal perjuangan. Hatta memegang lembut tangan Bung Karno. Bung Karno melanjutkan sapaan lemahnya, “Hoe at het met jou…” (Bagaimana keadaanmu?)


Hatta benar-benar tak kuasa lagi merekayasa raut teduh. Hatta benar-benar tak kuasa menahan derasnya arus kesedihan demi mendengar sahabatnya menyapanya dalam bahasa Belanda, yang mengingatkannya pada masa-masa penuh nostalgi. Apalagi, usai berkata-kata lemah, Sukarno menangis terisak-isak. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya. Seketika, Hatta pun tak kuasa membendung air mata. Kedua sahabat yang lama berpisah, saling berpegang tangan seolah takut terpisah. Keduanya bertangis-tangisan.


“No….”


Hanya kata itu yang sanggup Hatta ucapkan, sebelum akhirnya meledak tangis yang sungguh memilukan. Bibirnya bergetar menahan kesedihan, sekaligus kekecewaan. Bahunya terguncang-guncang karena ledakan emosi yang menyesakkan dada, yang mengalirkan air mata. Keduanya tetap berpegangan tangan. Bahkan, sejurus kemudian Bung Karno minta dipasangkan kacamata, agar dapat melihat sahabatnya lebih jelas.


Selanjutnya, Bung Karno hanya diam. Mata keduanya bertatapan… mereka berbicara melalui bahasa mata. Sungguh, ada sejuta makna yang tertumpah pada sore hari yang bersejarah itu. Selanjutnya, Bung Karno hanya diam. Diam, seolah pasrah menunggu datangnya malaikat penjemput, guna mengantarnya ke swarga loka, terbang bersama cita-cita yang kandas di tangan bangsanya sendiri. (roso daras)


Hari-hari Terakhir Bung Karno (4)





Siapa yang tak murka, demi mengetahui bahwa selama kurang lebih 1,5 tahun “dikerangkeng” di Wisma Yaso, Bung Karno, mantan Presiden Republik Indonesia, tokoh pemersatu dan proklamator bangsa, ternyata hanya diserahkan perawatannya secara penuh kepada dr Soeroyo. Siapakah dokter Soeroyo? Dia bukanlah dokter spesialis, melainkan dokter hewan!


Ia masuk-keluar Wisma Yaso dengan perawat-perawat yang tidak jelas didatangkan dari mana. Bahkan obat-obatan yang dicekokkan ke Bung Karno pun sama sekali tidak tepat. Ia hanya memberinya duvadilin (mencegah kontraksi ginjal), metadone (penghilang rasa sakit), royal jeli, suntikan vitamin B1 dan B12, serta testoteron. Selain itu, Sukarno tiap malam juga minum valium.


Tiap malam minum valium selama tahunan, tentu saja membuat tidurnya tak lagi terkontrol. Akibatnya Sukarno mulai sering merasakan pusing. Setiap itu pula, perawat memberinya obat pengurang rasa sakit, novalgin.


Perawatan yang sembrono juga sering terjadi, ketika Bung Karno terbangun tengah malam dan muntah darah, dokter Soeroyo hanya memberinya vitamin. Sementara, dokter Mahar Mardjono yang disebut-sebut sebagai ketua tim, sama sekali tidak pernah hadir ke Wisma Yaso. Itu semua terungkap dalam dokumen yang lebih 27 tahun tersimpan oleh Siti Khadijah, yang tak lain adalah istri dokter Soeroyo. Benar adanya, bahwa sejarah pada akhirnya akan mengalir menemukan jalan kebenarannya sendiri. Benar pula, bahwa ada kecenderungan yang seolah tersusun rapi, tentang “pembunuhan” terhadap Sukarno.


Tidak banyak cerita, tanggal 21 Juni 1970, pukul 07.00 WIB, Bung Karno menghembuskan nafas terakhirnya. Adalah dr Mahar Mardjono, satu-satunya orang yang menyaksikan “kepergian” Putra Sang Fajar. Keterangan yang ia kemukakan, “Pada hari Minggu, 21 Juni 1970, pukul 04.00 pagi, Bung Karno dalam keadaan koma. Saya dan dokter Sukaman terus berada di sampingnya. Menjelang pukul 07.00 pagi, dr Sukaman sebentar meninggalkan ruangan rawat. Saya sendiri berada di ruang rawat bersama Bung Karno. Bung Karno berbaring setengah duduk, tiba-tiba beliau membuka mata sedikit, memegang tangan saya, dan sesaat kemudian Bung Karno menghembuskan nafas yang terakhir.”


Tak lama berselang, keluarlah komunike medis:
1. Pada hari Sabtu tangal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Ir. Sukarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.
2. Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir Sukarno dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir Sukarno meninggal dunia.
3. Team dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir Sukarno hingga saat meninggalnya.


Komunike itu ditandatangai Ketua Prof Dr Mahar Mardjono, dan Wakil Ketua Meyjan Dr (TNI-AD) Rubiono Kertopati.


Sementara itu, Syamsu Hadi suami dari Ratna Juami, anak angkat Bung Karno dan Inggit Ganarsih yang melihat jenazah Bung Karno melukiskan dengan baik, “Wajah almarhum begitu tenang. Seperti orang tidur saja nampaknya. Mata tertutup baik. Alis tebal tidak berubah, sama seperti dulu.” (roso daras)





Pemakaman Bung Karno








Rakyat Indonesia dari penjuru Tanah Air, berjubel, tidak saja di sekitar Wisma Yaso tempat jenazah Bung Karno disemayamkan, tetapi juga di Blitar, Jawa Timur, tempat jazad Bung Karno dikebumikan. Seperti pengalaman pribadi mantan ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko. Ia merasa bagai tersambar petis demi mendengar kematian tokoh bangsa yang delapan tahun ia layani. Bambang yang ketika Bung Karno wafat sudah menjabat sebagai Asisten Kepala Personil Urusan Militer Mabes TNI-AL itu, bergegas menuju Wisma Yaso.


Wisma Yaso yang sejak siang sudah dijejali kerumunan rakyat yang hendak melayat, tidak juga surut hingga malam hari. Bambang pun masuk dalam antrian pelayat, yang berjalan menuju ruang tengah Wisma Yaso setapak demi setapak. Suasana ketika itu dilukiskan sebagai sangat mengharukan. Tidak terdengar percakapan, kecuali isak tangis, dan bisik-bisik pelayat. Di sudut ruang, masih tampak kerabat dan pelayat yang tak kuasa menahan jeritan hati yang mendesak di rongga dada, hingga tampak tersedu-sedu.


Tiba di dekat peti jenazah, Bambang melantunkan doa, “Ya Tuhan, Engkau telah berkenan memanggil kembali putraMu, Bung Karno. Terimalah kiranya arwah beliau di sisiMu. Sudilah Engkau mengampuni segala dosa-dosanya dan berkenanlah Engkau menerima segala tekad dan perbuatannya yang baik. Engkau Mahatahu ya Tuhan, dan Engkaulah Mahakuasa, aku mohon kabulkanlah doaku ini. Amin”


Segera setelah usai berdoa, Bambang menuju kamar lain, tempat keluarga BK berkumpul. Di sana tampak Hartini, Dewi, Guntur, Mega, Rachma, Sukma, Guruh, Bayu, dan Taufan. Mereka pun saling berangkulan. Sejurus kemudian, Sekmil Presiden, Tjokropranolo mendekati Bambang dan berkata, “Mas Bambang, kami mohon sedapatnya bantulah kami dalam menjaga dan melayani keluarga BK yang saat ini amat sedih dan emosional.” Bambang segera menukas, “Baik, tapi toong sampaikan hal ini kepada KSAL.”


Begitulah. Bambang sejak itu tak pernah jauh dari keluarga Bung Karno. Baginya, inilah bhakti terakhir yang dapat ia persembahkan bagi Bung Karno. Bambang juga berada di mobil bersama keluarga Bung Karno dalam perjalanan dari Wisma Yaso ke Halim, dari Halim terbang ke Malang, dan dari Malang jalan darat dua jam ke Blitar. Di situ, ia melihat rakyat berjejal di pinggir jalan, menangis menjerit-jerit, atau diam terpaku dengan air mata bercucuran.


Bambang yang duduk dekat Rachma tak kuasa menahan haru demi melihat begitu besar kecintaan rakyat kepada Bung Karno. Ia pun berkata pelan kepada Rachma, “Lihatlah, Rachma, rakyat masih mencintai Bung Karno. Mereka juga merasa kehilangan. Jasa bapak bagi nusa dan bangsa ini tidak akan terlupakan selamanya.” Rachma mengangguk.


Pemandangan yang sama tampak di Blitar hingga ke areal pemakaman. Ratusan ribu rakyat sudah menunggu. Bahkan militer harus ekstra ketat menjaga lautan manusia yang ingin merangsek mendekat, melihat, menyentuh peti jenazah Bung Karno.


Sementara itu, upacara pemakaman dengan cepat dilaksanakan. Panglima TNI Jenderal M. Panggabean menjadi inspektur upacara mewakili Pemerintah Republik Indonesia. Prosesi pemakaman berlanjut. Peti jenazah pelan-pelan diturunkan ke liang kubur. Tak lama kemudian, liang kubur mulai ditutup timbunan tanah… saat itulah meledak tangis putra-putri Bung Karno, yang kemudian sisusul ledakan tangis pelayat yang lain di sekitar makam. Bambang Widjanarko merasa hancur hatinya demi melihat penderitaan anak-anak Bung Karno ditinggal pergi bapaknya untuk selama-lamanya. Tanpa terasa, air mata Bambang mengalir lagi di pipi.


Akhirnya, selesailah upacara pemakaman Bung Karno yang berlangsung sederhana tetapi khidmat. Acara pun ditutup tanpa menunggu selesainya peletakkan karangan bunga. Meski rombongan resmi sudah meninggalkan makam, tetapi ribuan manusia tak beranjak. Bahkan aliran peziarah dari berbagai penjuru negeri, terus mengalir hingga malam. Mereka maju berkelompok-kelompok, meletakkan karangan bunga atau menaburkan bunga lepas di tangannya, kemudian berjongkok, atau duduk memanjatkan doa, menangis di dekat pusara Bung Karno.





Malam makin gelap, tetapi sama sekali tak menyurutkan lautan manusia mengalir menuju makam Bung Karno. Makin malam, makin gelap, tampak makin khusuk mereka bedoa. Ratusan orang meletakkan karangan bunga, ratusan orang menabur bunga lepas, tetapi puluhan ribu pelayat pergi membawa segenggam bunga. Alhasil, karangan bunga dan taburan bunga yang menggunung si sore hari, telah habis diambil peziarah lain selagi matahari belum lagi merekah di ufuk timur. Habis bunga, peziarah berikutnya menjumput segenggam tanah di pusara Bung Karno, dan dimasukkan saku celana. Tak ayal, tanah menggunduk di atas jazad Bung Karno pun menjadi rata. Inilah dalam ritual Jawa yang disebut “ngalap berkah”.


Seorang pelayat, dan ia adalah rakyat biasa, berkata, “Bung Karno adalah seorang pemimpin besar, Pak. Kami rakyat, sangat mencintainya. Sebagai kenangan saya bawa pulang sedikit bunga ini.”
Begitulah, karangan bunga, taburan bunga, bahkan gundukan tanah pun dijumput para peziarah. Yang tampak keesokan harinya, 23 Juni 1970 adalah pusara berhias tanah merah. Merah menyalakan semangat tiada padam. Biarpun jazad terkubur dalam tanah, semangat tak akan lekang dimakan waktu. Biar jazad hancur menyatu dengan tanah, tapi kobaran semangat perjuangan tetap menyala. Sukarno hanya mati jazad, namun ruh dan jiwanya tetap menyatu dengan rakyat. Hidup dan terus mewarnai semangat juang rakyat.


Manusia Sukarno telah tiada. Putra Sang Fajar yang lahir tatkala surya mulai bersinar, telah kembali dalam pelukan bumi Nusantara yang sangat ia cintai. Ia masuk pelukan bumi ketika matahari condong ke barat, menuju peraduan malam. Begitulah matahari bersinar dan tenggelam setiap hari. Begitulah manusia lahir dan mati. Namun bagi bangsa Indonesia, nama Bung Karno akan tetap dikenang, diingat karena perjuangannya, pengabdiannya, dan pengorbanannya yang dengan sepenuh hati telah ia baktikan.


Terima kasih, ya Tuhan, Engkau telah memberi kami seorang manusia Sukarno yang telah lahir dalam permulaan abad ke-20, dan membebaskan bangsa ini dari penjajah. (roso daras)









0 comments

Istana-istana Kepresidenan di Indonesia

Istana Jogja





Istana Kepresidenan Yogyakarta terletak di ujung selatan Jalan Akhmad Yani (yang dahulu jalan Malioboro); Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta. Kompleks ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 meter persegi, sejak didirikannya Istana Yogyakarta tidak banyak berubah. Di halaman serambi depan tampak sebuah patung raksasa penjaga pintu (dwarapala) setinggi dua meter. Selain itu, terdapat sebuah tugu Dagoba (yang oleh orang Yogyakarta disebut Tugu Lilin) setinggi tiga setengah meter, yang senantiasa menyalakan api semu di puncaknya. Tugu ini terbuat dari batu andesit. Halaman belakang istana ditumbuhi oleh pepohonan besar dan tinggi yang dedaunannnya amat lebat dan rindang sehingga tampak seakan merindangi bangunan istana. Istana Kepresidenan Yogyakarta dikenal juga dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara, salah satu fungsi gedung utama istana, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung.


Istana Kepresidenan Dari Depan Riwayat Istana Kepresidenan Yogyakarta bermula dari rumah kediaman resmi Residen Ke-18 di Yogyakarta (1823 – 1825). Ia seorang Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan pemrakarsa pembangunan Gedung Agung ini. Gedung ini didirikan pada bulan Mei 1824 oleh A. Payen yaitu arsitek yang ditunjuk oleh gubernur jenderal Hindia Belanda. Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena pecahnya Perang Diponegoro (1825 – 1830) dan dilanjutkan setelah perang itu usai (1832). Beberapa gubernur Belanda yang mendiami gedung tersebut adalah J.E. Jesper (1926 – 1927); P.R.W. van Gesseler Verschuur (1929 – 1932); H.M. de Kock (1932 – 1935); J. Bijlevel (1935 – 1940); serta L. Adam (1940 – 1942). Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.



Gdung Induk R. Garuda Pada tanggal 6 Januari 1946 Yogyakarta resmi menjadi ibu kota baru Republik Indonesia setelah pemerintah Republik Indonesia berhijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Sejak saat itu Gedung Agung berubah menjadi Istana Kepresidenan, rumah kediaman Presiden Soekarno, Presiden I RI beserta keluarganya.

Pada tanggal 28 Desember 1949, Presiden berpindah ke Jakarta, sehingga istana ini tidak lagi menjadi tempat kediaman Presiden. Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada masa dinas Presiden II RI, sejak tanggal 17 April 1988, Istana Kepresidenan Yogyakarta/Gedung Agung juga digunakan untuk penyelenggaraan Upacara Parade Senja pada setiap tanggal 17, di samping untuk Acara Perkenalan Taruna-taruna Akabri Udara yang Baru, dan sekaligus Acara Perpisahan Para Perwira Muda yang Baru lulus dengan Gubernur dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan sejak 17 Agustus 1991, secara resmi Istana Kepresidenan Yogyakarta digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk DI Yogyakarta.

Istana Cipanas


http://img10.imageshack.us/img10/7357/istanacipanas.jpg


Istana Kepresidenan Cipanas terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, kaki Gunung Gede, Jawa Barat dari sebuah bantunan yang didirikan pada tahun 1740 oleh seorang tuan tanah asal Belanda bernama Van Heots, pada ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut, di atas areal lebih kurang 26 hektar dengan luas bangunan sekitar 7.760 meter persegi. Pada tahun 1916, masa pemerintahan Hindia Belanda di bangun tiga bangunan dengan nama Paviliun Yudistira, Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna. Pada tahun 1954, di masa Presiden I Republik Indonesia Ir. Soekarno, didirikan sebuah gedung berhiasan batu bertentuk bentol.

Istana ini dibangun dengan keadaan panorama alam yang asri, udaranya bersih, sejuk dengan berlatar belakang Gunung Gede. Dalam areal hutan istana, hingga tahun 2001, menurut Katalog yang disusun secara alfabetis terbitan Istana Kepresidenan berkerja sama LIPI tercatat sebanyak 1.334 spesimen, 171 spesies, 132 marga, serta 61 suku. Selain dengan lingkungan yang asri istana ini juga dialiri air panas. sebagai tempat peristirahatan dan persinggahan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, para kepala negara tetangga yang berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 1971, Ratu Yuliana meluangkan waktunya untuk singgah.

Gedung Bentol

istcpnsbentol.jpgGedung Bentol terletak di belakang Gedung Induk berada di lereng gunung, maka bangunan ini berdiri lebih tinggi dari pada bangunan-bangunan yang ada, merupakan produk dua arsitek anak bangsa,

RM.Soedarsono dan F. Silaban. Sekelilingnya amat hening, sunyi dan sepi, suasana ini yang oleh Presiden Soekarno, dipakai untuk menyusun berbagai rencana dan strategi membawa bangsa ini yang dikorbarkannya dalam pidato kenegaraan, pada setiap peringatan hari proklamasi.

Pemandian Air Panas Presiden

bagian belakang Gedung Induk, masih terdapat bebarapa bangunan, namun yang paling besarperanannya terhadap keberadaan Istana Kepresidenan

Cipanas adalah sumber air panas yang mengandung mineral. Maslahatnya bagi kesegaran dan kebugaran raga memang sanga alami, oleh karena itu, untuk menampung limpahan air dari sumber alam tersebut didirikan dua buah bangunan pemandian, yaitu bangunan dikhususkan untuk mandi Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, dan yang satu lagi lebih besar diperuntukan rombongan yang menyertai Presiden dan Wakil Presiden.

Istana Jakarta


http://img10.imageshack.us/img10/4848/istanajakarta.jpg


Komplek Istana Kepresidenan Jakarta terletak di Jl. Merdeka Utara, berdekatan dengan Taman Monumen Nasional (Monas); di jantung ibu kota negara, di atas tanah seluas 6,8 hektar, di ketinggian lebih kurang 5 meter dari permukaan laut.

Istana Kepresidenan Jakarta terdiri dari dua bangunan istana, yaitu Istana Merdeka yang menghadap ke Monas, dan Istana Negara, yang menghadap ke Sungai Ciliwung, Jl. Veteran, selain itu terdapat pula bangunan lain dalam lingkungan Istana Jakarta, yaitu Kantor Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan serta halaman yang ditumbuhi oleh pepohonan besar dan tua, yang berdaun rindang dan berakar berjuntai, serta berkat rerumputannya yang menghampar laksana permadani hijau, Istana Jakarta tampak teduh dan asri.

Istana Kepresidenan Jakarta fungsinya lebih difokuskan kepada kegiatan resmi kepresidenan, selain sebagai kantor Presiden Republik Indonesia juga sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, pelatikan pejabat-pejabat tinggi negara, pelantikan perwira muda TNI, penerimaan tamu-tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasional, dan sebagai tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi pada setiap tanggal 17 Agustus.

Istana Negara.

Istana ini banyak mencatat peristiwa, diantaranya : Jenderal de Kock menguraikan rencananya untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol kepada Gubernur Jenderal Baron van der Capellen, dan Gubernur Jenderal Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel).

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini pula terjadi penandatanganan naskah Persetujuan Linggarjati, pihak Indonesia diwakili oleh Sultan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.

Istana Merdeka

Istana Merdeka dibangun pada tahun 1879, istanan ini banyak mencatat peristiwa luar biasa dalam kehidupan pemerintahan Indonesia sehingga istana ini lebih banyak mendapat keistimewaan di hati rakyat Indonesia. Salah satunya adalah riwayat tentang nama istana itu sendiri, nama yang menggunakan kata merdeka. Kata Merdeka bukan tiada atau hampa arti, kata merdeka laksana bara asa bagi pertanda terlepasnya belenggu penjajahan di bumi Indonesia seraya menjadi bangsa yang berdaulat.

Pada tanggal 27 Desember 1949, di Istana Merdeka terjadi peristiwa tentang pengakuan atas kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Kerajaan Belanda melalui serangkaian upacara resmi yang dilaksanakan dalam waktu yang sama, baik di Belanda (Amsterdam pukul 10.00 waktu setempat) maupun di Indonesia (Jakarta dan Yogyakarta waktu pukul 16.00 waktu setempat). Pada hari itu di berbagai tempat dan penjuru tanah air, ratusan ribu pesawat radio menanti siaran dari Jakarta yang membawa berita luar biasa itu. Serta merta terdengar berita upacara penandatanganan dan penyerahan naskah tentang pengakuan atas kedaulatan Republik Indonesia Serikat itu.

Dengan waktu bersamaan bendera Merah Putih berkibar di depan Istana Merdeka sebagai pengganti bendera Belanda, lagu Indonesia Raya berkumandan, dan pekikan "Merdeka, merdeka, merdeka", yang menggema di seluruh pelosok tanah air, itu sebabnya istana bernama Istana Merdeka.

Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali diadakan pada tahun 1950 tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka.

Istana Bogor


http://img195.imageshack.us/img195/9835/istanabogor.jpg


Gedung Induk

Istana Kepresidenan Bogor terletak di Kelurahan Paledang, Kecamatan Kota Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat, di sekitar 60 kilometer dari Jakarta atau 43 kilometer dari Cipanas. Istana ini berada di atas tanah berkultur datar, seluas sekitar 28,86 hektar, di ketinggian 290 meter dari permukaan laut, tergolong ke dalam kota beriklim sedang, dengan hawa sejuk sangat sesuai untuk peristirahatan. Alam disekitar istana ini indah dan terasa nyaman, halamannya ditata seakan-akan tampak laksana permadani hijau yang terhampar mengelilingi bangunan istana. Selepas mata memandang, terbentang hamparan rumput yang segar menghijau, yang dirindangi oleh lebatnya aneka daun pepohonan terdiri dari 346 jenis pohon; Lima ratus sembilan puluh satu ekor rusa tutul (Axis-axis) manis bergerombol kesana-kemari; kolam-kolamnya berhias bunga teratai dan air semburat.

Riwayat Istana Kepresidenan Bogor bermula dari Gubernur Jenderal Belanda bernama G.W. Baron van Inhoff, yang mencari tempat peristirahatan dan berhasil menemukan sebuah pesanggrahan (10 Agustus 1744) yang diberi nama Buitenzorg (artinya bebas masalah/kesulitan). Dia sendiri membuat sketsa dan membangunnya (1745-1750) mencontoh arsitektur Blehheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris.

Namun, musibah datang pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi berat mengguncang sehingga istana tersebut rusak berat. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa Abad IX. Kemudian pada tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwer yang terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemeritah pendudukan Jepang. Akan tetapi, riwayat telah mencatat sebanyak 44 gubernur jenderal Belanda pernah menjadi penghuni istana ini. Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor (1950) mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia

Gedung Induk R. Kerja

Fungsi utama Istana Kepresidenan, pada masa penjajahan Belanda istana berfungsi sebagai tempat peristirahatan. Namun setelah jaman kemerdekaan berubah menjadi kantor kepresidenan dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia.

Sejalan dengan fungsinya pernah terjadi di Istana Kepresidenan Bogor, antara lain
(a) Konferensi Lima Negara (28-29 Desember 1954)
(b)Penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 lebih dikenal dengan Supersemar.
(c) Pembahasan masalah konflik Kamboja yaitu Jakarta Informal Meeting (JIM)
(d) Pertemuan Para Pemimpin APEC (15 November 1994).

Bagian-bagian Istana Kepresidenan Bogor, Gedung Induk terdiri dari Ruang Garuda sebagai Ruang Resepsi; Ruang Teratai berfungsi sebagai Ruang Penerima Tamu; Ruang pemutaran film; Ruang Kerja Presiden; Ruang Perpustakaan; Ruang Famili dan Kamar Tidur; Ruang Tunggu Menteri yang akan mengikuti acara. Gedung Utama Saya Kiri terdiri dari Ruang Panca Negara pernah berfungsi sebagai persiapan Konfrensi Asia Afika di Bandung; Kemudian Ruang Tidur dan Ruang Tengah sebagai tempat menginap Presiden, Tamu Negara, dan Tamu Agung. Gedung Utama Sayap Kanan berfungsi sebagai tempat menginap para Presiden sebagai tamu Negara berikut tamu Negara dan tamu lainnya. Paviliun Sayap Kiri berfungsi sebagai kantor Rumah Istana Bogor, sedangkan Paviliun Sayap Kanan sebagai tempat menginap para pejabat dan staf tamu Negara. Bahkan pada tahun 1964 dibangun khusus untuk istirahat Bapak Presiden dan keluarganya, yang dikenal dengan nama Dyah Bayurini.

Istana Tampak Siring Bali


http://img21.imageshack.us/img21/1154/proftampak.jpg


Istana Kepresidenan Tampaksiring berada pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut, berlokasi di atas perbuktian di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Pulau Bali. Merupakan satu-satunya istana kepresidenan yang dibangun masa pemerintahan Indonesia yang dibangun pada tahun 1957 - tahun 1960, sepenuhnya ditangani oleh putra-putra Indonesia, atas prakasa Presiden I Republik Indonesia : Soekarno.

Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, tampak (bermakna telapak) dan siring (bermakna miring). Menurut legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.

Istana Tampaksiring dibangun secara bertahap, arsiteknya R.M Soedarsono. Pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira pada tahun 1957, dilanjutkan perampungan tahun 1963. Selanjutnya untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, di Bali pada tanggal 7 - 8 Oktober 2003, di bangun gedung baru dan merenovasi Balai Wantilan, bangunan pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Kori Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.

Istana Tampaksiring difungsikan disamping untuk acara-acara Presiden dan Wakil Presiden dalam hal kepemerintahan dan kenegaraan, juga peruntukan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden dan Wakil Presiden peserta keluarga, serta bagi tamu-tamu negara. Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain Presiden Ne Win dari Birma (sekarang Myanmar); Presiden Tito dari Yogoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruschev dari Unit Soviet, Ratu Juliana dari Belanda dan Kaisar Hirohito dari Jepang.

Komplek Istana Kepresidenan Tampaksiring kini terdiri dari lima gedung utama dan satu pendapa. Dua gedung utama diberi nama Wisma Merdeka (1.200 meter persegi) dan Wisma Negara (1.476 meter persegi) yang dipisahkan oleh celah bukit sedalam lebih kurang 15 meter namun terhubung dengan jembatan sepanjang 40 meter, tiga gedung utama yang lainnya diberi nama Wisma Yudhistira, Wisma Bima, dan ruang untuk konferensi, serta Balai Wantilan.

Sumber: kaskus.us






0 comments

PANDU (PRAMUKA) DAN SOLAT IDUL FITRI



sumber :http://iwandahnial.wordpress.com/2009/09/17/pandu-pramuka-dan-solat-idul-fitri/


http://iwandahnial.files.wordpress.com/2009/09/pandu.jpg?w=353&h=425


Seorang pandu (sekarang disebut pramuka) tahun 1950-an,

sambil berjaga ikut mendengarkan khotbah setelah solat Idul Fitri.





0 comments

Sejarah dan Misteri lagu GENJER-GENJER

Lagu genjer-genjer yang asli diciptakan oleh Almarhum Muhammad Arief .

Lagu berjudul Genjer-genjer menjadi salah satu penggalan cerita yang mengiringi peristiwa Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan sebutan G30S-Partai Komunis Indonesia. Konon, lagu yang menceritakan tentang tanaman genjer (limnocharis flava) itu dinyanyikan oleh anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)-PKI, saat menyiksa para petinggi TNI di Lubang Buaya.





Cerita mengerikan versi Orde Baru yang lambat laun mulai diragukan seiring tidak terbuktinya penyiksaan para jenderal itu, membuat image lagu Genjer-genjer ikut pula mengerikan. Apalagi, G30S diikuti rentetan penculikan dan pembunuhan di beberapa kantong PKI. Termasuk di Banyuwangi, tempat pencipta lagu Genjer-genjer Muhammad Arief tinggal.

Benarkah lagu Genjer-genjer identik dengan PKI? Pertanyaan lama yang selalu dibantah, namun tetap tidak menghapus stigma. Budayawan Banyuwangi Fatrah Abbal, 76, menceritakan, lagu Genjer-genjer diilhami oleh masakan sayur genjer yang disajikan Ny. Suyekti, Istri Muhammad Arief di tahun 1943.




“M.Arief heran, tanaman yang awalnya dikenal sebagai makanan babi dan ayam itu ternyata enak juga dimakan manusia, akhirnya ia mengarang lagu Genjer-genjer,” katanya. Begitu terkenalnya lagu yang nadanya mirip dengan lagu rakyat berjudul Tong Ala Gentong Ali Ali Moto Ijo itu hingga Seniman Bing Slamet dan Lilis Suryani pun menyanyikannya.

Kedekatan lagu itu dengan PKI tidak bisa dilepaskan dengan kondisi politik di tahun 1965. Masa di mana politik Indonesia membuka ruang bagi ideologi apapun itu membuahkan persaingan antar partai politik. Termasuk persaingan dalam hal berkesenian.



Seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Lembaga Kesenian Nasional (LKN), Partai Nahdlatul Ulama (NU) dengan Lesbumi, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) serta Masyumi dengan Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI). “Lekra menggandeng seniman Banyuwangi, termasuk Muhammad Arief,”.




Sejak digandeng Lekra, seni Banyuwangi-an semakin dikenal. Banyak lagu-lagu Banyuwangi yang sering dinyanyikan di acara PKI dan underbownya. Termasuk lagu Genjer-genjer yang diciptakan di tahun 1943, lagu Nandur Jagung dan lagu Sekolah.

Muhammad Arief sebagai seniman pun ditawari bergabung dengan Lekra dan ditempatkan sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi. Seniman yang dulu bernama Syamsul Muarif itu juga diminta mengarang lagu yang senapas degan ideologi PKI. Seperti lagu berjudul Ganefo, 1 Mei, Harian Rakyat, Mars Lekra dan Proklamasi.





“Kalau kita resapi, lagu Genjer-genjer memang tidak memiliki makna apa-apa, hanya bercerita tentang tanaman genjer yang dulu dianggap sampah kemudian mulai digemari,”.
“Genjer-genjer, nong kedok’an pating keleler, emak’e tole, teko-teko, mbubuti genjer, oleh sak tenong, mungkor sedot, seng tole-tole, genjer-genjer, saiki wis digowo muleh,” adalah bait asli dari lagu genjer genjer.

Entah, siapa yang memulai, pasca G30S, syair lagu Genjer-genjer pun dipelesetkan dengan syair yang menceritakan aksi penyiksaan para jenderal korban G30S. “Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler, Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral, Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh, Jendral Jendral saiki wes dicekeli,” Begitu bunyi gubahan lagu itu. “Gubahan itu sebenarnya tidak ada!”






karena lagu tersebut yang dinyanyikan para GERWANI sambil berjoget dan bertingkah seperti orang gila yang digunakan saat pembantaian/pembunuhan para Jenderal pada masa itu (sehingga bermaksud menghina), maka lagu tersebut mulai saat itu hingga kini dilarang untuk dinyanyikan.






Sumber: kaskus.us






0 comments

Tengkorak Yang Diyakini Sebagai Hitler Ternyata Tengkorak Perempuan

sumber :http://zonsnews.blogspot.com/2009/09/tengkorak-yang-diyakini-sebagai-hitler.html




http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2009/09/27/article-0-0694C7C5000005DC-263_468x578.jpgDi seluruh dunia mungkin semua orang selama ini percaya bahwa Adolf Hitler, pemimpin Nazi, mati bunuh diri dengan cara menembak kepalanya, dan diyakini juga dia tewas dalam sebuah bunker.

Sekarang, keyakinan itu agaknya perlu direvisi, karena berdasarkan penelitian dan analisis DNA terhadap sebuah tengkorak dengan lubang bekas tertembus peluru yang selama ini diyakini sebagai tengkorak Hitler ternyata adalah tengkorak seorang perempuan yang berusia kurang dari 40 tahun.

Para ilmuwan dan ahli sejarah sudah lama menyatakan, tengkorak itu akan menjadi bukti yang meyakinkan bahwa Hilter menembak dirinya hingga tewas setelah minum pil cyanide pada 30 April 1945 ketimbang menghadapi penangkapan yang memalukan. Potongan tengkorak itu—yang ada lubang pelurunya—telah diambil dari luar bunker Hitler oleh tentara Rusia dan selama ini disimpan intelijen Soviet.



http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2009/09/27/article-0-0072851200000258-453_468x345.jpg



Bunker yang selama ini dikatakan tempat
Hitler dan Eva Braun terbakar dan dikubur.



Sekarang sejarah kematian Hitler harus ditulis kembali sebagai sebuah misteri, dan para ahli teori konspirasi harus memikirkan kemungkinan bahwa Hitler mungkin saja tidak mati dalam bunker.

Berdasarkan kisah lama, Hitler melakukan bunuh diri dengan Eva Braun saat Rusia mengebom Berlin. Meski sejumlah ahli sejarah ragu Hitler menembak dirinya dan menduga hal itu hanyalah propaganda Nazi untuk menjadikan Hitler sebagai pahlawan. Namun, lubang pada potongan tengkorak itu tampak menguatkan argumen tersebut ketika tengkorak itu dipamerkan di Moskwa tahun 2000.

Namun, analisis DNA telah dilakukan pada tulang itu oleh peneliti Amerika. "Kami tahu tengkorak itu berhubungan dengan seorang perempuan berusia antara 20 dan 40 tahun," kata ahli arkeolgi Nick Bellantoni dari Universitas Connecticut, AS, sebagai dikutp Dailymail, Senin.

"Tulang itu kelihatan sangat tipis; tulang tengkorak laki-laki cenderung lebih kuat. Dan persambungan di mana lempengan tengkorak itu menyatu tampak berhubungan dengan seseorang yang berusia kurang dari 40 tahun. Hitler pada April 1945 berusia 56 tahun."

Bellantoni terbang ke Moskwa untuk mengambil contoh DNA di Arsip Negara dan ditunjukkan sofa dari bunker yang berlumuran darah di mana Hitler dan Braun diyakini bunuh diri. "Saya punya foto referensi yang diambil Soviet tentang sofa pada tahun 1945 dan saya melihat noda yang sama pada potongan kayu dan tenunan di depan saya. Jadi saya tahu, saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang nyata," katanya.

Berdasarkan keterangan para saksi, mayat Hitler dan Eva Braun dibungkus selimut dan dibawa ke taman di luar bunker, diletakkan di sebuah kawah bom, disiram minyak, lalu dibakar.


http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2009/09/27/article-0-00288EAE00000258-934_468x388.jpg


Pada Mei 1945 sebuah tim forensik Rusia menggali mayat yang diduga milik Hitler. Ada bagian tengkorak yang hilang, tampaknya akibat tembakan bunuh diri. Kepingan rahang yang tersisa cocok dengan rekaman gigi Hitler, menurut asisten dokter giginya yang tertangkap. Dan, mayat itu hanya punya satu buah zakar. Setahun kemudian potongan tengkorak yang hilang ditemukan. Pencarian dilakukan atas perintah Stalin yang masih curiga tahun tentang nasib Hitler.

Bagaimana dan kapan Hitler meninggal sekarang diselimuti misteri. Bellantoni mengatakan, tengkorak itu tidak mungkin milik Braun, yang berusia 33 tahun. "Tidak ada laporan Eva Braun menembak dirinya atau ditembak," katanya. Banyak orang tewas di dekat bunker.

Yang tidak ketahui dunia, mayat yang diyakini milik Hitler dikubur di Magdeburg, Jerman Timur. Setelah Stalin meninggal tahun 1953, keberadaan kuburan itu tetap dipertahankan. Akhirnya, tahun 1970, KGP menggali mayat itu, membakarnya, dan secara rahasia menaburkan abunya ke sungai.

Hanya tulang rahang, potongan tengkorak dan segemen sofa yang berlumur darah yang masih disimpan di tempat penyimpanan arsip intelijen Soviet. Bellantoni mempelajari benda-benda kenangan Hitler itu di Arsip Negara Rusia. Dia diizinkan hanya satu jam untuk meneliti barang-barang itu, selama waktu tersebut dia mengelap dengan kapas penyeka dan mengambil contoh DNA. Contoh itu kemudian dibawa ke Connecticut.


http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2009/09/27/article-0-00550F6A00000258-619_468x320.jpg

hitler bersama istri nya eva


Di pusat penelitian genetik universitas itu, Linda Strausbaugh menutup labnya selama tiga hari khusus untuk bekerja pada proyek Hitler. Linda mengatakan, "Kami bekerja seperti biasa dan melakukan pengawasan seperti yang dilakukan dalam lab kriminal." Dia terkejut, sejumlah kecil DNA yang dapat terus hidup berhasil diekstrak.



ataukah BENAR ANALISIS BAHWA HITLER SINGGAH

DAN TINGGAL DI INDONESIA ? ? ?

kunjungi thred unic 77 : http://unic77.blogspot.com/2009/09/adolf-hitler-meninggal-di-indonesia.html










0 comments

Older Posts Home

 

About Me

My photo
aQ ituh,, baE,,[beNer deH] cErewEt..[WAjaR X WaNITA] peNYayang,,[huhu] muRAH hti..[bKn murAHan lho,CATET] Blue LoverZ,,[yoNkruu,,gw bgt] SETIA,,,[paHam] Ingin diMengerti..[waNita...biaSaLAh] Ingin diSAYangi,diCINTAI,,yG pasTi ma pACarQu.tp SaYaNg sEkArNg Gw LaGi jOmbLO nIch. SUkA pcAran[hahaha],,PokOknYa asyik,asyik Dweh...idola gw Yg CupuCupuLucu.. Aq Pengen SeLamanya punya CoWok yG Gak SuKa nGaMBek pOkonA so SWeet..maNiZ banGeuTzz,, sUka kTawa,,hahahihi sUka MaNjAiN Gw DeCh eh ga koQ,,[pISS] aQ sukA ORg Yg tAMPiL APa ADnYA,gK dibUAT2,, KaREna mnJADI dIRI seNdIRI tu LBH BAIK drpaDa mnJADi org lain,,rite??? so,,, BE UR SELF aZ gituH! gu itu paling suka . * di sayang * di perhatiin * di manja * di cintai * di ngertiin yg gga paling gu suka : * nunggu * di bhongin * di khianatin * hhahahahahaha ,, 1 lgg DI SAKITIN . jUsT Be u'R seLF ..***

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget

My Diary 0nLiNe Copyright © 2009 REDHAT Dashboard Designed by SAER